Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah
Duhai cintaku pujaan hatiku
Peluk diriku dekaplah jiwaku
Bawa ragaku
Melayang memeluk bintang
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia karena dia begitu indah
Thursday, December 9, 1999
Terlanjur
Katakanlah padaku bila engkau mau
Melabuhkan hatimu bersandar padaku
Kau tau aku tak bisa jauh darimu
Walau hanya sekedar sejenak berpaling saja
Biarkan semua orang tahu, engkau memang kekasihku
Karena kuterlanjur mencintai dirimu
Biarkan semua orang tahu, engkau memang kekasihku
Karena kuterlanjur mencintai dirimu
Percayalah padaku, yakinkan dirimu
Menepiskan perasaan atas masa lalumu itu
Persilakan saja aku yang mengerti kamu
Memaksa untuk melupakan tentang kekasihmu itu
Melabuhkan hatimu bersandar padaku
Kau tau aku tak bisa jauh darimu
Walau hanya sekedar sejenak berpaling saja
Biarkan semua orang tahu, engkau memang kekasihku
Karena kuterlanjur mencintai dirimu
Biarkan semua orang tahu, engkau memang kekasihku
Karena kuterlanjur mencintai dirimu
Percayalah padaku, yakinkan dirimu
Menepiskan perasaan atas masa lalumu itu
Persilakan saja aku yang mengerti kamu
Memaksa untuk melupakan tentang kekasihmu itu
Beri Aku Arti
Menjumpai hari suasana sepi
Menikmati nafas alam tak berasa
Beragam warna terbayang sekilas
Menyingkirkan luka, tanpa diminta...
Pernahkah kusadar tanpa itu semua
Dalam terang surya selalu terjaga
Memahami makna arti kenyataan
Keremangan senja selipkan hampa...
Dimana kawanku... inginku menyapa
Beri aku ruang... tempatkan diriku
Dimana kawanku... semakin menjauh
Beri aku arti... tak ingin berbeda
Kau palingkan wajah acuhkan muka
Menyamakan arti bukan suara hati
Ingin berbicara hasrat pengungkapan
Masih pantaskah aku disampingmu...
Menikmati nafas alam tak berasa
Beragam warna terbayang sekilas
Menyingkirkan luka, tanpa diminta...
Pernahkah kusadar tanpa itu semua
Dalam terang surya selalu terjaga
Memahami makna arti kenyataan
Keremangan senja selipkan hampa...
Dimana kawanku... inginku menyapa
Beri aku ruang... tempatkan diriku
Dimana kawanku... semakin menjauh
Beri aku arti... tak ingin berbeda
Kau palingkan wajah acuhkan muka
Menyamakan arti bukan suara hati
Ingin berbicara hasrat pengungkapan
Masih pantaskah aku disampingmu...
Sudahlah
Cerita lalu seakan nyata
Larut kita didalam rasa
Mengalir terbawa jangan teruskan
Kita yang pernah mengukir cinta
Berbayang masa saat bersama
Hanyutkan kita coba hentikan
Sudahlah...aku pergi
Sudahlah...aku pergi
Lelahkan jiwa meski berharap
Rasakan lagi cinta kita dulu
Tapi ah..ah..kita terpisahkan
Derasnya sisi religi
Mengasah alur hidup kita
Jangan sesali
Coba kuatkan hati..oh
Aku pergi
Demi Cinta
Tautan waktu berjalan, iring langkah kita bersama
Mendewasakan semua rasa, perasaan jiwa
Tak akan mungkin memungkiri, menyangkal arti cinta
Biar angin menentang, pun langit terhempas
Menyangsikan cinta dalam keras kehidupan
Naif terlahir, kewajaran kodrati lelapkan semua
Demi cinta, bersandinglah (di dalam sisi hidupku ini)
Demi cinta berjanjilah (melangkah kita bersama)
Perlahan kita mulai belajar, melaraskan batin
Meluaskan ruang, tingkap pengertian
Tak pernah kumerasakan, penat menjadi beban
Biar pernah mengalir, pun meski terluka
Damai... kita... bersama... sucikan cinta
Mendewasakan semua rasa, perasaan jiwa
Tak akan mungkin memungkiri, menyangkal arti cinta
Biar angin menentang, pun langit terhempas
Menyangsikan cinta dalam keras kehidupan
Naif terlahir, kewajaran kodrati lelapkan semua
Demi cinta, bersandinglah (di dalam sisi hidupku ini)
Demi cinta berjanjilah (melangkah kita bersama)
Perlahan kita mulai belajar, melaraskan batin
Meluaskan ruang, tingkap pengertian
Tak pernah kumerasakan, penat menjadi beban
Biar pernah mengalir, pun meski terluka
Damai... kita... bersama... sucikan cinta
Bidadari
Aroma wangi surgawi, sirami jiwaku ini
Bagai bunga yang terindah, merekah dan tetap suci
Sribu wajah yang terlintas, hanya satu yang ada di hati
Janjikan ketulusan cinta abadi selamanya
Kuyakin dan pasti kau ada di benakku
Ku takkan berhenti menunggu
Bidadari, hadirlah malam ini dalam mimpiku
Bidadari, senyumlah kau kini sambutlah rinduku
Sepenggal bulan kan kembali, menjadi purnama yang terang
Seterang hati dan jiwamu oh bidadariku
Mungkinlah aku bisa menyapamu, meraih semua imajimu
Bercanda bercinta bersama
Bidadari, hangatkan jiwaku bersama cintamu
Tuesday, November 17, 1998
Indie Ten
Album rilisan tahun 1998 ini album indie justru menjadi cara label raksasa Sony Music Entertainment Indonesia melakukan seleksi debutan-debutannya untuk nantinya dibuatkan album penuh.
Dua nama yang akhirnya menuliskan cerita kesuksesannya sendiri adalah Cokelat dan Padi, yang di album ini masing-masing diwakili single “Bunga Tidur” dan “Sobat”. Dua lagu akhirnya masuk di album pertama mereka, Untuk Bintang dan Lain Dunia.
Selain Cokelat dan Padi, terdapat band lain yaitu Caffeine dan Wong yang sempat meramaikan chart televisi dan radio.
Selengkapnya daftar band dan judul lagu adalah sebagai berikut :
Wong - Tak Ingin
Padi - Sobat
Caffeine - Satu Untukmu
Soda - Imaji Cinta
Layang - Peduli
Gen - Dibalik Senyummu
Cokelat - Bunga Tidur
Fable - Bintang
Ninh - Kehidupan Itu
Opus - Peramal
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Indie_Ten
https://pophariini.com/5-album-kompilasi-penting-di-industri-musik-indonesia/
Subscribe to:
Posts (Atom)


