Wednesday, June 18, 2003

Sesuatu Yang Tertunda

Disini aku sendiri, menatap relung-relung hidup
Aku merasa hidupku, tak seperti yang kuimingkan
Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku
Seperti yang mereka tahu, seperti yang mereka tahu

Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku, menantang sendiriku
Temui cinta, lepaskan rasa

Disini aku sendiri masih seperti dulu yang takut
Aku merasa hidupku pun surut tuk tumpukan harap
Tergambar begitu rupa, samar seperti yang kurasakan...
Kenyataan itu pahit, kenyataan itu sangatlah pahit

Menjadi Bijak

Betapa ini sangat berarti
Membagi gelisah dengan dirimu kawan

Kau kepakkan kau terbangkan sayap pikiranku
Menembus ruang dan waktuku
Membangunkan lelap jiwaku
Setelah lama tertidur

Ada benarnya ucapan katamu
Memang hidup itu harus begini adanya

Kau kepakkan .. kau terbangkan sayap pikiranku
Menembus ruang dan waktuku
Membangunkan lelap jiwaku
Setelah lama tertidur

Terukir ..
Lebih baik hidupku

Menanti Keajaiban

Tak semudah bagiku untuk bisa meredakan resahku
Meski kucoba menyangkal
Sungguh merisaukan benakku
Aku memimpikan malaikat
Berkenan menemani aku
Tuk sekedar melipurkan hati
Dengan setulus hati

Betapa aku telah lama tinggalkan binar di hatiku
Atau mungkin kan tertawa
Namun jiwaku terasa jauh

Tak lelah kupandang langit
Berjuta harap ku menanti
Penuh harap kumenanti.......
Keajaiban datang dan menghampiriku
Oh ..
Aku tak tahu apa yang kan kutemui

Aku masih menunggu dan menunggu
Berharap akan datang keajaiban ..

Seharusnya aku tak patut bersedih
Atas semua yang terjadi kepadaku
Aku merasa bahwasanya hidup ini
Tak lebih dari sebuah perjalanan

Hingga saat ku tiba
Semoga tak lelah aku berpeluh
Hingga saat ku tiba
Kuharap temukan apa yang ku cari

Cahaya Mata

Teduhkanlah hatiku
Lelahkanlah jiwaku
Duhai engkau cahaya mataku

Yang menuntun jalanku
Yang memandu hidupku
Yang meredupkan pedih penatku

Tersenyumlah
Bahagialah
Sungguh engkau

Yang melumpuhkan hatiku
Yang melipurkan rinduku
Senyuman itu menyenangkan aku

Diatas Bumi Kita Berpijak

Bersyukurlah
Bahwa kita masih saling mendengarkan dan berkata
Bersyukurlah bahwa kita masih memijakkan kaki diatas bumi
Menghirup nafas alamNya

Memandang ke atas langit .. takjubkan hati
Merendahkan jiwa ini .. dan terilhami
Seperti (teduh) sepasang mata malaikat yang turut menangisi isi bumi
Tak ubahnya desir angina yang menerpa(menerjang)
Kekosongan dan kesunyian hati

Bersyukurlah bahwa kita masih saling mendengarkan dan mendoakan

Rapuh

Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh bersama derasnya tetes airmata
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu

Tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jikaku beranjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu

Sebenarnya ku tak ingin berada disini
Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi

Aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi
Sepenuh hatiku aku tak mengerti

Hitam

Oh jiwaku
Dimanakah aku kini
Kau bawa aku melintasi tempat yang tinggi
Oh tubuhku ..
Mengapakah engkau kini masih membisu
Tak kunjung bicara padaku

Oh ..
Ceritakanlah padaku apa yang mengeruhkan hati dan jiwaku
Tolonglah ..
Kau tuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Penuntun jiwaku ..
Luruskanlah hatiku
Seandainya aku tahu aoa yang akan terjadi nanti

Aku masih terus melayang bersandingkan langit hitam
Masih melayang
Terus melayang

Oh ..
Ceritakanlah padaku .. apa yang mengeruhkan hidup dan jiwaku
Tolonglah ..
Kau tuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku

Tak perlu kutangisi
Kupasrahkan sekuat hati
Saat jiwa terlepas
Saat jiwa terlepas